SEJARAH
KOTA LUMAJANG
Lumajang adalah kabupaten di Jawa Timur yang berada di kaki
gunung tertinggi Pulau Jawa yakni Mahameru atau Semeru. Lumajang dijaman pra
sejarah dikenal dengan sebutan Negara Lamajang yang bisa dilihat dalam Prasasti
Mula Malurung Sminingrat (Wisuwardhana) ditetapkan menjadi juru di Lamajang
diangkat menjadi pelindung dunia di Negara Lamajang tahun 1177 Saka pada
Prasasti tersebut setelah diadakan penelitian/penghitungan kalender kuno maka
ditemukan dalam tahun Jawa pada tanggal 14 Dulkaidan 1165 atau tanggal 15
Desember 1255 M.yang merupkan prasasti tertua yang isinya yaitu “Sira Nararyya
Sminingrat, pinralista juru Lamajang pinasangaken jagat palaku, ngkaneng nagara
Lamajang” yang artinya “ Dia Nararyya Sejarah Lumajang kemungkinan mulai tercatat
pada abad ke-12, ketika Lumajang telah dianggap sebagai tempat yang cukup
penting semenjak tahun 1182 M. Lumajang menjadi terkenal dan maju setelah Arya
Wiraraja adalah tokoh besar yang lahir dari keturunan Brahmana dari Pulau Bali
yang dasuh oleh Mpu Sedah. Menurut Babad Pararaton, nama kecilnya adalah Banyak
Wide, secara etimologis yaitu “Banyak” adalah biasanya adalah nama yang
disandang kaum Brahmana, seangkan “Wide” yang berarti “Widya” yang berarti
pengetahuan. Jadi, nama Banyak Wide sendiri berarti Brahmana yang punya banyak
pengetahuan atau cerdik. Arya wiraraja menjadi Raja di Lumajang setelah anaknya
Ranggalawe tewas dibunuholeh pungawa Majapahit yang dipimpin oleh adipati
Nambi. Beliau memerintah wilayah Tigang juru (Lumajang, Panarukan dan
Blambangan) ditambah Madura dan banyak menanamkan pengaruh di Bali. Sejak tahun
1882 Lumajang masih merupkan Distrik (setingkat Kecamatan) yang dipimpin oleh
seorang Wedono, kemudian tahun 1886 status sistem Pemerintahannya dinaikkan statusnya
menjadi daerah Afdeeling (setingkat Kabupatenn), kepala Pemerintahannya adalah
seorang Patih Afdeeling, dan tahun 1929 sistem Pemerintahan di Lumajang
dinaikkan lagi statusnya menjadi Kabupaten, kepala pemerintahannya adalah
seorang Bupati. Kerajaan Lumajang
beribukota di daerah Biting Kutorenon Kabupaten Lumajang hingga sekarang.
Bahkan peninggalan benteng kota raja Lumajang masih bisa dijumpai dan tertimbun
tanah (gundukan tanah). Situs Biting adalah sebuah situs arkeologis yang
terletak di desa Kutorenon, kecamatan Sukodono, Lumajang, provinsi Jawa Timur.
Situs ini diperkirakan merupakan peninggalan dari kerajaan Lamajang dan tersebar di atas kawasan seluas
sekitar 135 ha. Bangnan yang paling mengesankan adalah bekas tembok benteng
dengan panjang 10 kilometer, lebar 6 meter, dan tinggi 10 meter. Nama Biting
sendiri merujuk pada kosa kata Madura bernama “Benteng” karena daerah ini
memang dikelilingi oleh benteng yang kokoh pada tahun 1995 di kawasan Situs
Biting yang tentu saja banyak merusak peninggalan sejarah (situs) yang ada.
Namun anehnya pihak-pihak terkait yaitu Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala
(BP3) Jawa Timur yang merupakan lembaga penyelamat seolah diam melihat
perusakan ini sehingga lebih kurang 15 hektar kawasan ini rusak oleh pembangunan
ini. Pelestarian Situs Biting di Lumajang Jawa Timur merupakan contoh bagi para
pecinta dan pelestari sejarah dimana LSM, Mahasiswa maupun Masyarakat telah
bahu membahu melakukn sosialisasi maupun advokasi terhadap peninggalan sejarah.
Sumber : wipkipedia.com
kompasiana.com
PAMELA AGESTI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar